Sabtu, 30 April 2011

Bukan Nasehat


“Thanks karena telah menjadi teman, membantu saya keluar dari masalah dan hari ini akhirnya bisa lulus kuliah juga. Sukses untuk JBD”. Pesan pendek itu masuk ke ponsel Tiwin Herman, Jumat siang lalu. Si pengirim pesan, sebut saja bernama Ronald, pria berusia 27 tahun yang merupakan pengguna hotline www. janganbunuhdiri.net yang digagas Tiwin dan teman-temannya setahun silam. “Dia sempat ingin bunuh diri dan penelepon layanan ini sejak kami berdiri. Sekarang, kami akrab sekali, seperti teman dekat,” ujar Tiwin Herman, Ketua Janganbunuhdiri.Net. Saking dekatnya hubungan emosional itu, Tiwin merupakan orang pertama yang dikabari Ronald ketika lulus ujian skripsi Jumat itu. Niat Ronald mengakhiri hidup, terpicu karena hubungan kedua orang tuanya tidak harmonis.

Ronald yang merupakan anak sulung dari tiga bersaudara merasa putus asa dengan hidup yang berantakan dan tidak diperhatikan orang tua. Akhirnya dia uring-uringan dan sangat emosional. Salah satu efeknya adalah kuliahnya yang baru selesai setelah melewati sembilan tahun yang berliku di salah satu perguruan tinggi di Jakarta itu.
Pesan seperti itu merupakan pesan yang kesekian kalinya diterima Tiwin dan rekan-rekannya. Pengirimnya tak lain, mereka yang sebelumnya berniat bunuh diri, namun merasa diselamatkan hotline tersebut. Klik saja “Buku Tamu” website mereka, misalnya. Ada yang berkomentar bahwa situs dan layanan ini membantu mereka menemukan penyelesaian, merasakan kembali perhatian, dan sejenisnya.

Misalnya yang dikirimkan Diana tinggal di Malang, pada Jumat siang lalu yang berbunyi; “Th anks karena telah mengobati beban pikiran dan menjadi tempat curhat”. Ide Janganbunuhdiri.net adalah menolong mereka yang pernah tebersit bunuh diri. Layanan nirlaba ini berdiri sejak 9 Februari 2010, digagas oleh tiga orang mahasiswa S2 Psikologi Universitas Indonesia, Harez Posma Sinaga, Posma Roland Simatupang, termasuk Tiwin Herman.
Bentuk layanannya melalui jaringan telepon (021-96969293) atau email dan chatting room Yahoo Messenger (janganbunuhdiri@yahoo.com).

Layanan ini dikawal 12 personel yang berprofesi sebagai psikolog atau ahli kejiwaan. “Awalnya yang mengelola hanya kami bertiga, tapi karena semakin banyak yang masuk, banyak yang bantu. Kalau tidak begitu, enggak bisa istirahat,” ujar Tiwin sambil senyum-senyum. Ketika pertama kali di-launching, jumlah pengguna layanan hanya segelintir. Paling banter hanya 5-10 orang yang masuk per hari.

Sedangkan saat ini, dalam tempo tiga jam, bisa 19 orang yang masuk, baik itu melalui telepon atau chatting room secara bersamaan.
“Kalau ada yang masuk, kita harus siap kapan pun, enggak boleh diputus, meski capek. Apalagi hotline ini 24 jam,” tambah Tiwin. Alhasil, mereka pun menyiasatinya dengan membagi shift yang stand by, meski pekerjaan ini bisa dimoderatori secara online dan mobile. Misalnya, untuk shift dini hari dipegang konselor kami bernama Ana yang tinggal di Amerika Serikat. Setiap satu shift antara 1-3 personel yang siap.

Bukan Nasihat

Metode layanan janganbunuhdiri. net bukan memberi nasihat atau langkah- langkah penyelesaian masalah. Tapi sebagai teman berbagi. Sebab, menurut Tiwin, orang yang pernah tebersit bunuh diri karena mereka tidak punya teman curhat, tidak ada orang-orang terdekat yang perhatian dan dia merasa sendiri menghadapi hidup.

“Kami hanya mendengarkan kisah mereka. Kalau pun beri feedback, misalnya; Ada yang bisa kami bantu? Apa yang terjadi? Kok bisa?, seperti itu,” ungkap Tiwin. Metode itu didasari dua aspek kejiwaan.
Pertama, orang yang berniat bunuh diri pasti dalam kondisi labil dan emosional. Mereka lebih butuh teman dan tidak untuk dinasihati karena justru bisa memicu lebih emosional.

Kedua, pada dasarnya manusia punya kemampuan menyelesaikan masalahnya sendiri. Namun karena sedang labil tadi, pikirannya tidak jernih. Lalu, bagaimana profi l yang menghubungi mereka? Bisa siapa pun. Laki-laki atau perempuan, tuamuda, dan dari berbagai profesi. Bahkan ada anak yang berusia 7 tahun sampai pria uzur kepala tujuh.
“Bunuh diri itu tidak mengenal jenis kelamin, usia, profesi, atau ras. Siapa pun bisa terjadi,” ujar dia. Selain mereka, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga melansir layanan serupa. Melalui hotline service 021-500454 (24 jam) yang beroperasi sejak 10 Oktober silam. Hotline ini bukan hanya untuk mereka yang berniat bunuh diri, namun untuk gangguan psikososial lainnya.

Misalnya, trauma pasca bencana, kerusuhan, atau konsultasi kejiwaan umum. “Pada awalnya, layanan ini hanya dipergunakan mereka yang ingin tahu layanan di Rumah Sakit Jiwa Dr Soeharto Heerdjan, tapi sekarang bergeser ke psikososial, termasuk bunuh diri,” ujar Koordinator Pelaksana Hotline Service 500454 Kanisius Maturbongs.

Layanan itu dikawal sembilan konselor yang terdiri dari psikiatri, psikolog, tenaga penyuluh kesehatan masyarakat, dan perawat senior yang berpendidikan S2 ilmu kejiwaan. Ke depan, karena makin tingginya traffi c penggunaan layanan ini, Kemenkes akan menambah konselornya dari mantan pasien yang sudah sembuh. Konkretnya melatih anggota Perhimpunan Jiwa Sehat untuk menjadi konselor.

Layanan ini terintegrasi dengan 27 rumah sakit jiwa yang ada di Indonesia dan berpusat di RSJ Dr Soeharto Heedjan, Jakarta. Di sana ada tiga operator dengan empat link yang menghubungkan dengan konsuler di mana pun berada. “Setiap pagi, ada 4-5 operator yang bertugas.
Kalau malam, dua orang,” tambah dia.

0 Comments:

Post a Comment